Om bob atau yang akrab Disapa bob sadino.
Guru bagi para entrepreneur itu akhirnya berpulang. Ya, Bambang Mustari Sadino atau yang akrab disapa Bob Sadino menghembuskan napas di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. "Beliau meninggal karena sakit komplikasi," kata Ira Pulungan, keponakan Bob Sadino, kepada wartawan di rumah duka di Jalan P&K Nomor 2121, Pondok Cabe, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin malam (19/1).
Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933 itu meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Salah satunya adalah filosofi celana pendek yang juga selalu menjadi gaya khas Bob.
"Pesan filosofi, terutama untuk pengusaha muda adalah ciptakan brand," kata Sandiaga Uno, CEO Saratoga Grup, Senin (19/1). Itulah sebabnya, saat ada yang meniru gaya bercelana pendek, Bob kerap meminta agar gaya dia tak ditiru.
Dengan penampilannya yang identik dengan celana pendek, Bob memang sukses membangun brand image. Sehingga dia banyak dikenal orang.Pendek kata, penampilan Bob dengan celana pendek adalah upaya menciptakan branding yang khas. Diakui atau tidak, branding merupakan unsur penting untuk mengingatkan masyarakat pada sebuah produk atau perusahaan.
Bob memang dikenal sebagai seorang enterpreneur andal. Dia juga dikenal sebagai ahli menularkan optimisme di kalangan pengusaha muda dan wiraswasta yang ingin memulai bisnisnya.
Bob adalah pemilik tunggal Kems Grup (KG) dimana salah satu anak usaha adalah Kems Grup, supermarket Kemchiks di Kemang, Jakarta Selatan. Meski Kemchiks hanya ada satu di Indonesia, supermarket itu begitu terkenal di kalangan ekspatriat.
Meski demikian, Bob tidak ingin berekspansi dengan alasan menjaga kualitas produknya. Sukses Bob sendiri tidak mudah didapatkan. Sebelum menjadi pengusaha, dia sempat merasakan hidup susah di Jakarta.
Bob bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah per hari Rp 100. Pekerjaan ini diambilnya setelah mobil Mercedes buatan tahun 1960-an yang biasa disewakannya rusak karena kecelakaan.
Bob memulai usahanya dengan berjualan daging olahan dan telur ayam negeri. Dia memulai usahanya pada tahun 1970. "Pada tahun 70-an, di penghujung saya kerja sebagai kuli selama setahun, saya perhatikan telur di Indonesia beda dengan di Eropa," kata Bob dalam wawancara di Kick Andi beberapa waktu lalu.
Dia kemudian menulis surat ke temannya di Belanda untuk mengirimkannya anak ayam negeri dan majalah tentang cara beternak. Setelah pesanannya diterima dari Belanda, Bob mulai memasarkan dagangannya dari rumah ke rumah.
"Saya jual telur ayam dari rumah ke rumah orang Indonesia, tapi tidak ada yang mau beli. Katanya, telur yang saya jual beda dengan telur ayam kampung," terang Bob.
Usaha Bob baru menemui perkembangan setelah seorang ekspaktriat di Kemang, Jakarta Selatan meminta dirinya untuk tidak berjualan telur ayam dengan berkeliling. Tapi, orang asing tersebut yang ingin membeli telur di rumah Bob. Perlahan tapi pasti usaha telur yang dirintis Bob terus berkembang.
Hingga tadi malam, jenazah Bob masih disemayamkan di kediamannya Jalan Lebak Bulus Nomor 2121 Jakarta Selatan. Rencananya, jenazah Bob akan dimakamkan di pemakaman Jeruk Purut siang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar